Gue Kei Grace. Walau sudah bermilyar kali gue
bilang ke orang-orang, cukup manggil gue Kei aja, tapi sepertinya masih ada
saja segelintir manusia yang kekeuh manggil gue Grace. Mungkin karena
kehadiran gue memang anugerah bagi mereka? Atau justru karena gue adalah sumber
malapetaka, sehingga mereka manggil gue Grace dengan maksud supaya gue bisa ‘menyumbang’
sedikit anugerah untuk mereka? Masa bodo deh.
Gue setuju banget kalau ada yang bilang hidup itu cuma sekali, jadi harus
dinikmati. Hah! Itu gue banget! Bokap nyokap tajir, sekolah elite, prestasi dan
popularitas? Siapa yang nggak kenal gue? Ketua OSIS, perwakilan sekolah dalam student exchange, ranking
terendah gue dari SD sampai sekarang—kelas XII—adalah ranking tiga. Itupun beda
rata-rata nilai gue sama si cewek-tengil-berkacamata-berkepang-empat-bau-ketek
yang ranking satu hanya nol koma lima! Kebayang nggak sih betapa malunya gue di
depan bokap nyokap pas tahu hal itu?
Karena suatu alasan, gue nggak pernah percaya sama yang namanya cinta, apapun
itu ‘tipe’-nya. Entah itu cinta monyet atau cinta brontosaurus (atau apapun
lah!). Kenapa nggak sekalian aja ada cinta cicak, cinta tikus, cinta kuda, atau
yang lebih keren lagi : cinta kebo, cinta kambing, cinta sapi, atau cinta babi aja
sekalian!
Hari-hari
gue—khususnya di sekolah—sih biasa aja. Bangun pagi, molor bentar, terus bangun
lagi, nyeret kaki ke kamar mandi, tidur lagi di bathtub (kadang kalau pas lagi rajin, gue bisa belajar ataupun
ngerjain PR sambil poop, karena
bukankah secara biologi, saat-saat indah seperti itu adalah saat yang paling
tepat untuk berpikir secara jernih?), pake masker wajah, pake seragam—eh, pake deodorant dulu, ding, biar ketek wangi.
Lalu copot masker, pake bedak sama pake blash
on dikit, lip ice, dan nggak lupa
pake parfume kelas dunia. Lalu segera ambil tas dan keluar dari kamar yang
terletak di lantai dua. Dari atas, gue bisa ngelihat seluruh seluruh interior
rumah yang bernuansa putih terang. Gue segera menuruni tangga—yang kalau
diperhatikan arahnya tidak lurus kebawah, tapi agak spiral—dan berjalan kekiri.
Sial, bokap nyokap sudah nungguin rupanya. Tentu saja sama kakak gue yang super
cerewet, namun mau dilihat dari manapun tetap saja tampan : Jason.
“Honey, ayo sarapan. Kamu berangkat sama Jason saja, gapapa, ‘kan?” Kata nyokap
sambil memasukkan omelet ke mulutnya menggunakan sumpit.
Gue dan Jason cuma
beda dua tahun dan status Jason juga masih Free. Soo, walaupun gue sudah
berusaha jelasin ke orang-orang kalau dia adalah kakak tercinta gue, tapi
sekali lagi mereka tidak mempercayaiku dan tetap mengatakan kalau Jason lebih
pantas jadi pacar gue. Bahkan Raisa, sahabat gue sendiri, mengatakan kalau gue
dan Jason adalah pasangan yang serasi. Gue cantik, berambut coklat gelap
panjang bergelombang, badan semampai (gitar Eropa kalah, deh!), dengan Jason
yang bertubuh tegap, badan atletis (hasil rutin gym nya selama tiga tahun terakhir ini), dan tinggi hanya kira-kira
10 cm diatasku. Salah satu kesamaan kami adalah sama-sama beraliran music
bergenre Ballad Pop. Seperti dua minggu
lalu, gue dan Jason baru saja memenangkan lomba BALLADERS Competition, yaitu
kompetisi nyanyi Ballad se-Asia. Namun, karena kita hanya meraih runner up, kami tidak dapat
melanjutkan ke jenjang Internasional Se-Eropa. Sebagai gantinya, kami mendapat
kesempatan menjadi tamu utama di ajang kompetisi tersebut. Itu artinya, bulan
depan gue dan Jason berangkat ke Italy, tempat pelaksanaannya.
“Memangnya mom sama dad ga ke kantor?” Gue menarik
kursi di sebelah Jason.
Sedetik setelah pantat gue nempel di kursi, gue ngeliat tangan
seseorang di sebelah gue menaruh piring dan nasi, serta omelet berisi sosis di
depan gue. Saat gue noleh, ia tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala gue.
“Kami berangkat sekarang, honey. Karena penerbangan
kami satu setengah jam lagi. Sedangkan perjalanan menuju bandara memakan waktu empat
puluh lima menit kalau tidak macet,” kata dad sambil mengunyah omeletnya.
“Mom dan dad mau
kemana?” gue bertanya dengan polos layaknya bocah berumur tiga tahun yang akan
ditinggal mamanya di taman bermain yang ramai. “Bulan depan Kei dan Jason akan
show di Italy. Mom dan Dad akan datang, ‘kan?”
Mereka lalu
berdiri, mengambil tas mereka masing-masing, lalu mom mengecup pelan pipi
gue.
“Kami usahakan ya, honey,”
katanya sambil berlalu menuju ke pintu depan.
Belum sempat gue
bertanya pada Jason, ia sudah menoleh lebih dulu dan berkata, “Mom dan dad akan
ke Jepang untuk ngontrol perusahaan yang berada disana.”
“Oh,” jawab gue
singkat. Biasa. Itu sudah sangat biasa buat gue. Bokap nyokap memang jarang di
rumah. Mereka selalu sibuk dengan perusahaan-perusahaan mereka yang berada di
beberapa Negara di Eropa dan Asia. Memang sih,
rekening dan kartu kredit gue selalu terisi dan ready untuk digunakan kapanpun,
dimanapun, dan berapapun yang gue mau. Tapi ‘kan…
“Lo mau ngelamun
berapa abad lagi—“
“Gue pergi sendiri
saja,” potong gue cepat, dan sejurus kemudian gue sudah berdiri, siap untuk
pergi.
Melihat itu, Jason
juga ikut berdiri sambil memegang lengan gue. “Kenapa? Gue antar saja.“
Dengan tajam gue
menoleh ke Jason. “Kakak gue sayang, lo lupa ini hari apa? Ini hari Minggu.
Nggak ada sekolah. Lalu
kenapa gue pake seragam sekolah? Karena hari ini ada rapat besar pengurus MOS
dan OSIS. Jadi gue wajib datang. Kenapa gue mau berangkat sendiri? Karena
sebenarnya rapat masih se-jam-an lagi. Jadi gue males buru-buru. Dah! Gue pergi dulu ya.” Gue
melingkarkan kedua lengan gue di lehernya, dan langsung berlari keluar rumah.
***
“Sumpah! Lo lama
banget sih datangnya. Rapat sudah mau mulai, Kei! lo memang dari mana saja,
sih? Jason mana? Lo ga sama dia? Kalian tengkar? Soal apa—hei! Gue belum
selesai ngomong.” Gue terus berjalan melewatinya, memasuki ruang khusus untuk
ketua dan wakil ketua OSIS, dan duduk di sofa besarnya.
“Astaga, Raisa… Lo
lupa kalau rapat diundur setengah jam? Terus, gue ga sama Jason, karena memang
gue ga mau. Males. Bosen. Apapun lah, yang pasti bukan karena tengkar.” Gue
ngambil sebuah map ungu di atas meja, menyalakan AC, lalu kembali menghempaskan
badan ke sandaran sofa.
“Oh iya, panitia
untuk MOS besok sudah ready ya. Sorry gue lupa ngasih tahu lo.
Habis, lo kayaknya lagi have
fun banget di Hawaii waktu
liburan kemarin. Mentang-mentang habis menang lomba nih, langsung buang-buang
uang ke luar negeri,” canda Raisa sembari duduk di sebelah gue dan mulai
mengutak-atik iPad-nya.
“Ya lo diajak ke
Hawaii barengan nggak mau. Maunya malah ke Paris. Ya lo enak, disana bisa
romantis-romantisan sama Jeffry. Ke Menara Eiffel bareng, ke Arc D’Triomphe
bareng, semua bareng. Lah gue? Sama monyet, iya!” jawab gue seenak ngeluarin
kentut sambil terus menekuni rundown acara besok, yang direspon dengan
cengirannya saja.
“Eh Kei,”
panggilnya setelah beberapa detik tidak ada suara.
“Hm?”
“Bentar-bentar—nah,
ini dia!” ia menyodorkan iPad-nya ke arahku. “Itu susunan panitianya. Ada yang
kelas XI, ada yang XII. Rata-rata sih di luar OSIS, tapi ada satu-dua yang gue
ambil dari anggota OSIS. Biar dia nggak terlalu nganggur besok.”
Gue melihat
sejenak. Eh, tunggu dulu? Siapa ketuanya?
“Ketuanya Gary.
Gary Maxmillion. Lo tahu, kan? Anak kelas XII IPS 2 itu,” katanya seakan dapat
membaca pikiranku.
“Ga-Gary… Gary Max?
Gary yang gamer gila itu? Yang sampai
Mac Book-nya hampir disita gara-gara
main Freddie… Freddie night… argh, Fredie apa lah itu!—di kelas, benar?”
Sumpah! Gue nggak percaya! Masa bocah berandal kayak gituan yang jadi ketua
panitia MOS untuk besok?
“Hei, hei, he’s good to be a leader, beb.
Dia itu punya ‘something aura’ untuk
jadi pemimpin. Lagipula, yang lain juga sudah setuju, kok, kalau dia yang jadi
ketuanya.”
“Tapi ‘kan, Ra—“
Sial! iPhone gue
bunyi. Pasti…
Tuh, benar ‘kan!
Pasti Jason.
“Hm?... Gue? Gue
bareng Raisa aja pulangnya… iya lah. Sekalian jalan-jalan sebentar, mau nonton.
Oh, gimana kalau lo ikutan juga? Daripada gue jones di bioskop… Tentu saja.
Jelas Raisa sama ‘bebeb’-nya, si Jeffry…” kata gue sambil ngelirik, seakan
mengatakan ga-cuma-lo-aja-yang-punya-couple-nanti-gue-juga ke Raisa. “…Kita
naik mobil aja, ya. Soalnya, barusan gue liat berita, diperkirakan hari ini
bakalan hujan deras… oke… hmm, ya bye.”
Tut!
Gue melirik jam
tangan gue. Yak, sepuluh menit lagi rapat dimulai. Itu artinya, gue sama wakil
gue, Raisa, kudu segera ke ruang rapat. Gue penasaran,
gimana ya perawakannya para pengurus MOS? Memang sih, kebanyakan dari mereka
gue kenal. Tapi ‘kan, masa saat jadi pengurus MOS sama seperti saat mereka di
hari-hari biasa?
Dan terutama,
ketuanya…
***
“Baiklah, rapat hari ini cukup. Saya rasa, kalian semua pasti dapat membimbing
calon murid-murid baru selama satu minggu kedepan. Terima kasih semuanya.”
Semua yang ada di ruangan itu tepuk tangan. Gue pun kembali duduk di kursi
besar kebanggaan gue sambil merapikan kertas-kertas yang bertebaran di atas
meja.
“Eh, gue ke toilet
dulu, ya.” Belum sempat gue meng-iya-kan, Raisa sudah nyelonong pergi. How cute is—
Astaga, iPhone gue
bergetar (lagi). “Ya?... lo ga bisa jemput?... kenapa?... hmm… ga, gue tadi ga
bawa mobil… supir? Ga usah deh, gapapa… gampang. Tenang aja… okay, okay… bye!”
Hhh… ada apa lagi ini. Masa gue harus semobil sama Raisa dan ‘bebeb’-nya?
Mendingan gue disuruh naik ke atas punggung dinosaurus deh, daripada harus
semobil sama mereka, terus melihat adegan percintaan mereka di
mobil—mesra-mesraan, terus Raisa nyender di lengan Jeffry yang kekar, terus
mereka ciuman—urgh! Tidak! Tidak! Tidak! Apalagi kalau—
“Kei.”
Bagus. Seseorang
telah berhasil menghentikan jalan pikiran gue yang mulai nggak karuan. Memang
sih, Raisa sama Jeffry adalah orang yang baik-baik. Tapi kan, nothing’s impossible kalo judulnya
‘cinta’ .
Gue noleh ke kiri.
”Ya, Gar?”
Iya berdehem. ”Ehm,
sorry, bukannya bermaksud nguping. Tapi, tadi nggak sengaja gue dengar
pembicaraan lo di telepon. Kayaknya lo kebingungan soal transport pulang, ya?
Ehm, gue—“
“Kei!” Gue noleh.
Ternyata Raisa sudah kembali. “Jadi ‘kan, ke bioskop? Gue barusan sudah ajak
Jeffry. Dia nya mau. Terus, kebetulan Jeffry browsing, katanya di bioskop lagi
ada film bagus. Gimana?” celotehnya tanpa menyadari bahwa ada Gary di sebelahku.
“E-eh, gini… ehm…
barusan Jason nelpon dan dia katanya ga bisa ikut… dan, yah—“
“Gue ikut.”
Spontan gue dan
Raisa menoleh ke sumber suara.
“Ng, ‘kan tadi
pacar lo—si Jayden, eh Jaron, eh siapa lah itu—ga bisa jemput. Yah, gue bisa
ngantar lo. Sekalian, gue juga belum mau pulang. Itupun kalau lo mau.”
Terdengar nada tidak pasti dari Gary. “E-eh, gue pastikan pacar lo nggak akan jealous atau semacamnya.”
Mulut ternganga,
alis terangkat, kening berkerut. Ya, itulah tampang gue sekarang. Dan, sekali
lagi, sebelum gue sempat meluruskan ‘fakta’, Raisa sudah keburu ngomong,
“Oh, boleh! Bagus
deh kalau gitu. Lo bawa mobil, ‘kan? Jadi, biar Kei bareng lo, sekalian nanti
lo anterin dia pulang. Bisa, ‘kan?” gue bisa melihat wajah Raisa yang
berbinar-binar.
“Oh, tentu saja! By
the way, kita nanti mau lihat film apa?”
“Nah, itu dia! Lo
tau, ‘kan, film…”
Dan dapat
dipastikan, percakapan mereka selanjutnya tidak kuhiraukan. Gue sudah capek.
Masih banyak yang harus gue pikirkan selain masalah film. Misal, yang satu ini
nih : soal kegiatan MOS besok. Tapi, kalau dilihat-lihat, si Gary sepertinya
memang punya ‘something aura’ untuk membuat orang-orang tertarik dengannya.
Lihat saja Raisa. Raisa—si emak-emak-tukang-jual-obat-koyo—yang super cerewet,
bisa langsung dekat dengan Gary—si
cowok-berandal-ga-beraturan-sok-tahu-namun-entah-mengapa=dapat-memikat-semua-orang-untuk-mendekat—yang
sepertinya tingkat cerewetnya sudah level dewa. Bahkan menurutku, Raisa lebih
cocok dengan Gary daripada Jeffry—si cowok-cool-berbadan-atletis yang cenderung
lebih banyak diam dalam percakapan.
***
Gue ngelirik jam tangan gue. Jam enam sore. Ternyata lama juga gue, Raisa,
‘bebeb’-nya—Jeffry Agustinus—dan Gary di Mall. Dari niat awal hanya nonton,
jadinya main di timezone, makan siang, terus kembali ke bioskop untuk nonton
film yang lain.
“Thanks ya,” kata gue sambil merapikan
tas dan bersiap keluar dari mobil Gary. Namun, gerakan gue terhenti saat Gary
menyentuh pelan lengan gue.
“Gue yang harusnya
terima kasih ke lo. Karena, lo sudah nemani gue hari ini.”
Gue tersenyum
mengiyakan, membuka pintu, keluar mobil, dan menutupnya kembali. Lalu
melambaikan tangan hingga Porsche Panamera hitam Gary berbelok keluar area
komplek keluarga gue. Gue lalu balik badan dan menekan bel di sisi kanan
gerbang rumah gue yang tingginya mencapai lima meter. Beberapa detik kemudian,
terdengar suara dari intercom, “Silahkan masuk, nona Kei.” Gerbang pun terbuka,
dan gue masih harus berjalan melewati taman depan sejauh kira-kira tiga puluh
meter untuk dapat mencapai pintu masuk utama.
***
Ting… Tong…
Hhh… Siapa lagi sih
itu? Okay, gue tahu itu pasti Jason. Tapi, tidak bisakah dia berhenti
membunyikan bel kamar gue?
Ting… Tong…
Oh, ayolah! Bahkan
untuk membuka mata saja gue nggak kuat.
“Kei… Lo gapapa,
‘kan? Jangan buat gue khawatir. Cepat buka pintunya! Ini sudah jam setengah
tujuh pagi.” Gue mendengar suara Jason dari intercom yang membuat suaranya
menggema di dalam ruangan.
Eh, tunggu dulu.
Setengah tujuh…
SETENGAH TUJUH?!
Sial! Sial! Sial!
Bodo amat deh,
pokoknya gue harus memaksa, menyeret, apapun lah, asal badan gue bisa
bergerak.
Ayo Kei… Ayo!
Beruntung, tidak
sampai sepuluh menit gue bisa keluar kamar—dengan tersendat-sendat, tentunya.
“Lo nggak apa-apa?”
tanya Jason setelah gue nyusul dia ke ruang makan. Ia lalu menyentuh tangan
gue. “Kei! Badan lo panas banget. Kita harus ke dokter sekarang!”
Gue menggeleng
cepat. Sudah nggak ada waktu untuk melakukan hal-hal konyol seperti itu.
Pokoknya, gue harus segera sampai di sekolah. “Siapkan saja mobil dan kita
segera berangkat ke sekolah. As faster as
you can.”
“Tapi, Kei—“
“Please…” mohon gue yang membuahkan hasil
tidak sia-sia.
Dia melihat gue
sejenak lalu kemudian menghembuskan nafas pelan. “Oke, gue siapin mobil dan lo
makan roti di atas meja itu dulu.” Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari
keluar, meninggalkan gue di meja makan yang tanpa sepengetahuannya, gue sama
sekali nggak menyentuh makanan ataupun minuman di atas meja besar itu.
***
Gue melihat jam
tangan gue. Jam tujuh kurang lima belas menit. Bagus. Itu artinya, acara sudah
berlangsung selama lima belas menit tanpa kehadiran gue, sang ketua OSIS, yang
bukannya memberi contoh baik untuk datang tepat waktu, tapi malah datang sangat
terlambat. Sangat. Garis bawahi kata itu.
Gue segera melepas safety belt yang sejak tadi telah berhasil
menyesakkan nafasku. Sial! Kenapa nggak bisa dibuka? Hei! Ini mobil seharga
ratusan juta dolar, ‘kan? Tapi kenapa kualitasnya seperti barang rongsokan? Ayo
buka! Buka! Bu—
Cklek!
Bagus!
E-eh? Apa gue yang
barusan berhasil membuka safety
belt ini?
“Apa ga sebaiknya
lo istirahat di rumah aja? Bahkan untuk membuka safety belt saja lo nggak bisa—“
“Gue sudah telat,”
jawab gue singkat sambil membuka pintu mobil dan berlari keluar menuju lobby sekolah.
***
“Ya Tuhan, Kei! Lo
telat lagi—eh, badan lo kok panas? Lo sakit? Lo kok nggak di rumah aja? Atau lo
mau di UKS saja?“ Raisa memegang tangan gue dan mengelusnya pelan.
“Nggak, gue gapapa
kok. Cuma ga enak badan sedikit. Oh iya, gimana tadi MOS nya selama gue belum
datang?” Oke, harus gue akui dua kalimat awal tadi murni seratus persen bullshit belaka. Yah, minimal sekarang Raisa
nggak akan ngerocos panjang lebar lagi soal sakitku.
“Hmm, seperti yang
telah gue duga sebelumnya, dia memang bisa diandalkan dalam menjadi ketua. Lo
tahu, baru lima menit dia berkeliaran dan gabung sama murid-murid baru, mereka
sudah nempel terus sama dia. Hebat! Heran gue, tuh bocah nyantet tuh anak-anak
baru nan tak berdosa itu kali, ya? Tadi pidato pembuka darinya juga disambut
dengan sangat antusias oleh anak-anak itu. Oke lah, kalau mereka—yang
nge-‘fans’ sama Gary—itu kaum hawa. Secara, dia memang nggak cuma modal tampang
yang jauh diatas sempurna, tapi juga punya badan atletis, tajir, terus lumayan
pinter lagi. Dia cuma nggak bisa pelajaran sejarah doang—walaupun dia masuk
kelas IPS. Tapi, manusia normal mana juga yang percaya kalau pelajaran sejarah
itu penting? Ya, penting sih, bagi para peneliti tengkorak-tengkorak di masa
depan. Penting juga, bagi manusia-manusia yang nantinya mau jadi pemandu di Candi
Borobudur. Ya, ‘kan mereka harus tahu sedikit-sedikit tentang sejarah bangunan
itu. Biar nggak bodo-bodo amat, gitu. Tapi ‘kan intinya tetap saja, pelajaran
sejarah tidak terlalu penting. Okay,
kembali ke topik awal. Nah, sekarang masalahnya, yang nge-fans sama dia juga
para kaum Adam! Eh, maksud gue, kaum Adam itu para cowok, bukan geng kelompok
si Adam—yang semua anggota kelompoknya sama kayak ketuanya, si Adam—yang culun,
berkacamata bunder dengan tebal se-tutup botol Aqua, terus dekil, sok pintar, padahal
nilai juga do-re-mi-fa-sol-fa-mi-re-do. Terus—“
“Okay, okay, gue ngerti. Intinya, dia
telah mengerjakan tugasnya dengan baik, benar? Dan bagi gue itu sudsh cukup.
Terserah dia mau punya fans kek, penggemar kek, that’s none of my business,” potong gue acuh tak acuh.
Dan sepertinya,
Raisa mengerti kalau muka gue mulai mengatakan
tolong-jangan-nyerocos-lagi-karena-gue-sedang-tidak-dalam-mood-yang-bagus. Karena setelah itu dia mengatakan, “Ng, oke lah
kalau begitu. Gimana kalau kita langsug ke auditorium? Masih ada kegiatan
disana.” Dan tanpa seizin gue, dia langsung narik tangan gue.
Untuk mencapai
ruang auditorium (yah, sebenarnya gue masih nggak setuju tempat itu disebut
auditorium, karena pada kenyataannya tempat itu lebih terlihat seperti lapangan
sepak bola internasional, mengingat bagaimana luas dan tingginya tempat itu),
gue dan Raisa hanya perlu keluar gedung sekolah dan berjalan sedikit ke
belakang, karena gedung sekolah dan gedung auditorium terpisah. Satu-satunya
batas penghubung keduanya hanyalah sebuah kolam renang seluas dua puluh kali
sepuluh meter, dengan kedalaman mencapai dua meter, yang terletak diantara
kedua tempat itu. Sebenarnya, lewat dalam gedung sekolah bisa saja. Tapi, itu
akan memakan waktu lebih lama, sedangkan gue sudah telat datang kesini.
Sampai di
auditorium, Raisa langsung melambaikan tangan ke atas—ke arah Gary,
tentunya—yang sedang berdiri di atas panggung bersama beberapa panitia
MOS—karena sisanya berada di bawah panggung untuk mengontrol murid-murid
baru. Melihat kami—mungkin khususnya gue—sudah datang, ia segera turun dan
berlari kecil menghampiri kami.
“Hahh… akhirnya
kalian datang juga. Sejak awal tadi sih acaranya berjalan lancar. Anak-anaknya
antusias banget. Oh iya, ini laporan sementaranya.” Gary menyodorkan sebuah map
hitam yang memang sejak tadi sudah dia pegang. Gue mengambil dan membukanya.
Entah mengapa, gue nggak begitu fokus dengan tulisannya yang rapi ataupun hasil
dari laporan itu sendiri.
“Gar,” panggil gue
yang dibalas dengan tolehannya. “Gue mau keluar.”
Satu kalimat, tiga
kata, dua belas huruf. Singkat, tapi gue rasa dia mengerti maksud gue, karena
setelah itu dia langsung mengikuti gue keluar ruangan—tanpa Raisa, tentunya.
Setelah beberapa
langkah gue berjalan menyusuri pinggir kolam tanpa berhenti maupun noleh, gue
merasakan ada tangan yang kokoh yang dengan lembut memegang tangan gue.
“I’m okay.” Memang, dia belum bertanya.
Tapi gue yakin, kalau gue kasih dia kesempatan untuk ngomong, dia pasti akan
bertanya sesuai dengan jawaban gue barusan. “I just want to—“
“I know you’re not,” balasnya dingin dan
datar.
Dasar cowok sialan.
‘kan sudah gue bilang kalau gue—
E-eh, tunggu dulu.
Lo-loh, kok
sekeliling gue jadi nggak karuan gini? Kenapa semua terasa berputar? Gue
mencoba menahan rasa sakit di kepala dengan menekannya dengan telapak tangan.
Namun tiba-tiba gue kehilangan keseimbangan, dan gue bisa pastikan, kepala gue
akan membentur keramik pinggir kolam dengan keras kalau saja Gary tidak
langsung menarik gue. Untuk beberapa detik, gue sempat dengar ia memanggil nama
gue berkali-kali sambil sesekali memegang kening gue.
Setelah itu, gue
sudah nggak ingat apa-apa lagi.
***
Kei…
Kei…
Gue berusaha
membuka mata.
Gary.
“Kei, lo sudah
sadar? Lo gapapa, kan?”
Kenapa? Kenapa gue
mimpi itu lagi? Kenapa gue masih nggak bisa menghilangkan mimpi buruk itu dari
memori gue? Sebenarnya mimpi apa itu? Kenapa—
“Kei!”
Spontan gue menoleh.
‘Kei, lo gapapa,
‘kan?” Kembali gue mencerna apa yang telah terjadi dengan gue beberapa menit
yang lalu.
“Lo lagi flu, ya? Badan lo demam. Dan sepertinya lo juga belum sarapan,
‘kan?”
Gue hanya
diam. Hingga ruangan itu menjadi hening tanpa suara selama beberapa menit.
“Kei.”
Oh God, Suaranya…
Suaranya itu… Gue tidak tahu apa ini, tapi… Gue suka dengan suara itu… Gue suka
cara dia memanggil nama gue…Tidak, bukan.
Gue ingin selalu
mendengar suara itu memanggil nama gue—
Tidak! Tidak! Lo
apaan sih Kei. Bukankah semua orang juga manggil lo dengan nada yang sama?
Nggak cuma dia aja, ‘kan? Nggak usah lebay deh lo!
“Kenapa?” jawab gue
setelah bergulat dengan pikiran gue sendiri.
Gary berdehem. “Ehm, get well… soon… ya.”
Hening.
Gue kembali sibuk
dengan pikiran gue sendiri, dan gue yakin dia juga.
Get well soon… get well soon…
Apa maksudnya itu?
Oke, gue tahu
artinya adalah ‘Semoga Lekas Sembuh’.
Tapi, bukankah
sebuah kalimat terkadang memiliki arti yang ambigu?
“Kei,” panggilnya
lagi, namun kali ini tanpa respon dari gue, dia kembali melanjutkan, “Lo
percaya nggak, kalau gue bilang gue suka sama lo?”
Gue ternganga. Apa
katanya tadi?
“Gue… suka sama
lo.” Ulangnya lagi sekaan dia dapat membaca pikiran gue.
“Tidak mungkin.”
Jawab gue cepat dan datar sambil mengarahkan pandangan ke sisi lain—tidak menatapnya
lagi.
“Bagaimana tidak
mungkin? Lo menarik, lo lucu, lo segalanya, dan gue suka sama lo. Apa itu semua
tidak cukup untuk membuat gue tertarik sama lo? Apa itu semua tidak cukup kuat
untuk membuat lo percaya—“
“NGGAK MUNGKIN!”
gue setengah berteriak. Nggak mungkin! Nggak mungkin! Nggak mungkin!
“Mungkin.” Nadanya
datar dan dingin.
Gue hanya membalas
dengan melihatnya dengan tatapan campur aduk—marah, kesal, bingung—semua
menjadi satu. Kesal dan marah, tentu saja, dia seakan meremehkan derajat
wanita. Memangnya gue siapa, yang bisa langsung suka dengan seseorang—yang
memang terlihat sempurna—tanpa melihat bibit
bobot bebet nya, kalau kata
orang Jawa. Tapi juga bingung, apakah yang dia katakan sungguhan atau hanyalah bullshit belaka? Lagipula, gue dan
dia juga jarang ngomong, jarang berkomunikasi. Bagaimana dia bisa tahu kalau
gue lucu lah, menarik lah, apapun itu lah!
Tapi kan…
“Lo masih nggak
percaya sama gue?”
Dasar bodoh! Jelas
tidak lah! Cewek baik-baik mana coba yang percaya, kalau seorang cewek dan
seorang cowok bisa menjalin hubungan hanya dengan berkenalan dekat selama dua
hari? DUA HARI!
“Bagaimana kalau
gue bilang… Kalau sebenarnya gue sudah kenal lo selama bertahun-tahun?”
A-apa? Apa… katanya
tadi?
“Iya, kita
sebenarnya sudah pernah bertemu bertahun-tahun lalu—eh…“
“Apa maksud lo?”
Gue melihat
wajahnya mulai gelalapan. “Ehm, maksud gue—“
“Jawab gue.” Kata
gue nggak kalah dingin.
Dia menghela nafas
pelan. “Oke, oke. Sebenarnya… Gue… Yah, gue ada di lokasi kejadian waktu kasus
kecelakaan tabrak lari itu.”
A-apa katanya? Apa
katanya?
Tabrak lari… Tabrak
lari…
Kapan?
Diamana? Apa maksudnya?
Kenapa rasanya
seperti gue telah menghilangkan suatu kenyataan, suatu fakta yang penting dalam
hidup gue?
Kenapa?
Kemana?
Kemana gue bisa
mendapatkan penjelasan atas semua ini?
Siapa?
Siapa yang bisa menjelaskan
gue tentang semua ini?
To be continue…
“Why Love?” adalah
karya tulis kesekian saya dan karya tulis kedua yang saya publish di
internet—setelah “KISS” yang saya publish di wordpress.
Ingin mengenal saya
lebih jauh? Atau ingin memberi kritik dan saran atas karya saya? Semua dapat
anda kirim via e-mail keziagraceharefa07@yahoo.co.id atau keigrace07@gmail.com atau anda dapat leave comment di
halaman ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar