Sabtu, 14 Maret 2015

            Gue Kei Grace. Walau sudah bermilyar kali gue bilang ke orang-orang, cukup manggil gue Kei aja, tapi sepertinya masih ada saja segelintir manusia yang kekeuh manggil gue Grace. Mungkin karena kehadiran gue memang anugerah bagi mereka? Atau justru karena gue adalah sumber malapetaka, sehingga mereka manggil gue Grace dengan maksud supaya gue bisa ‘menyumbang’ sedikit anugerah untuk mereka? Masa bodo deh.

            Gue setuju banget kalau ada yang bilang hidup itu cuma sekali, jadi harus dinikmati. Hah! Itu gue banget! Bokap nyokap tajir, sekolah elite, prestasi dan popularitas? Siapa yang nggak kenal gue? Ketua OSIS, perwakilan sekolah dalam student exchange, ranking terendah gue dari SD sampai sekarang—kelas XII—adalah ranking tiga. Itupun beda rata-rata nilai gue sama si cewek-tengil-berkacamata-berkepang-empat-bau-ketek yang ranking satu hanya nol koma lima! Kebayang nggak sih betapa malunya gue di depan bokap nyokap pas tahu hal itu?

            Karena suatu alasan, gue nggak pernah percaya sama yang namanya cinta, apapun itu ‘tipe’-nya. Entah itu cinta monyet atau cinta brontosaurus (atau apapun lah!). Kenapa nggak sekalian aja ada cinta cicak, cinta tikus, cinta kuda, atau yang lebih keren lagi : cinta kebo, cinta kambing, cinta sapi, atau cinta babi aja sekalian!

Hari-hari gue—khususnya di sekolah—sih biasa aja. Bangun pagi, molor bentar, terus bangun lagi, nyeret kaki ke kamar mandi, tidur lagi di bathtub (kadang kalau pas lagi rajin, gue bisa belajar ataupun ngerjain PR sambil poop, karena bukankah secara biologi, saat-saat indah seperti itu adalah saat yang paling tepat untuk berpikir secara jernih?), pake masker wajah, pake seragam—eh, pake deodorant dulu, ding, biar ketek wangi. Lalu copot masker, pake bedak sama pake blash on dikit, lip ice, dan nggak lupa pake parfume kelas dunia. Lalu segera ambil tas dan keluar dari kamar yang terletak di lantai dua. Dari atas, gue bisa ngelihat seluruh seluruh interior rumah yang bernuansa putih terang. Gue segera menuruni tangga—yang kalau diperhatikan arahnya tidak lurus kebawah, tapi agak spiral—dan berjalan kekiri. Sial, bokap nyokap sudah nungguin rupanya. Tentu saja sama kakak gue yang super cerewet, namun mau dilihat dari manapun tetap saja tampan : Jason.

            “Honey, ayo sarapan. Kamu berangkat sama Jason saja, gapapa, ‘kan?” Kata nyokap sambil memasukkan omelet ke mulutnya menggunakan sumpit.

Gue dan Jason cuma beda dua tahun dan status Jason juga masih Free. Soo, walaupun gue sudah berusaha jelasin ke orang-orang kalau dia adalah kakak tercinta gue, tapi sekali lagi mereka tidak mempercayaiku dan tetap mengatakan kalau Jason lebih pantas jadi pacar gue. Bahkan Raisa, sahabat gue sendiri, mengatakan kalau gue dan Jason adalah pasangan yang serasi. Gue cantik, berambut coklat gelap panjang bergelombang, badan semampai (gitar Eropa kalah, deh!), dengan Jason yang bertubuh tegap, badan atletis (hasil rutin gym nya selama tiga tahun terakhir ini), dan tinggi hanya kira-kira 10 cm diatasku. Salah satu kesamaan kami adalah sama-sama beraliran music bergenre Ballad Pop. Seperti dua minggu lalu, gue dan Jason baru saja memenangkan lomba BALLADERS Competition, yaitu kompetisi nyanyi Ballad se-Asia. Namun, karena kita hanya meraih runner up, kami tidak dapat melanjutkan ke jenjang Internasional Se-Eropa. Sebagai gantinya, kami mendapat kesempatan menjadi tamu utama di ajang kompetisi tersebut. Itu artinya, bulan depan gue dan Jason berangkat ke Italy, tempat pelaksanaannya.

           “Memangnya mom sama dad ga ke kantor?” Gue menarik kursi di sebelah Jason.

       Sedetik setelah pantat gue nempel di kursi, gue ngeliat tangan seseorang di sebelah gue menaruh piring dan nasi, serta omelet berisi sosis di depan gue. Saat gue noleh, ia tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala gue.

           “Kami berangkat sekarang, honey. Karena penerbangan kami satu setengah jam lagi. Sedangkan perjalanan menuju bandara memakan waktu empat puluh lima menit kalau tidak macet,” kata dad sambil mengunyah omeletnya.

“Mom dan dad mau kemana?” gue bertanya dengan polos layaknya bocah berumur tiga tahun yang akan ditinggal mamanya di taman bermain yang ramai. “Bulan depan Kei dan Jason akan show di Italy. Mom dan Dad akan datang, ‘kan?”

Mereka lalu berdiri, mengambil tas mereka masing-masing, lalu mom mengecup pelan pipi gue. 

“Kami usahakan ya, honey,” katanya sambil berlalu menuju ke pintu depan.

Belum sempat gue bertanya pada Jason, ia sudah menoleh lebih dulu dan berkata, “Mom dan dad akan ke Jepang untuk ngontrol perusahaan yang berada disana.”

“Oh,” jawab gue singkat. Biasa. Itu sudah sangat biasa buat gue. Bokap nyokap memang jarang di rumah. Mereka selalu sibuk dengan perusahaan-perusahaan mereka yang berada di beberapa Negara di Eropa dan Asia. Memang sih, rekening dan kartu kredit gue selalu terisi dan ready untuk digunakan kapanpun, dimanapun, dan berapapun yang gue mau. Tapi ‘kan…

“Lo mau ngelamun berapa abad lagi—“

“Gue pergi sendiri saja,” potong gue cepat, dan sejurus kemudian gue sudah berdiri, siap untuk pergi.

Melihat itu, Jason juga ikut berdiri sambil memegang lengan gue. “Kenapa? Gue antar saja.“

Dengan tajam gue menoleh ke Jason. “Kakak gue sayang, lo lupa ini hari apa? Ini hari Minggu. Nggak ada sekolah. Lalu kenapa gue pake seragam sekolah? Karena hari ini ada rapat besar pengurus MOS dan OSIS. Jadi gue wajib datang. Kenapa gue mau berangkat sendiri? Karena sebenarnya rapat masih se-jam-an lagi. Jadi gue males buru-buru. Dah! Gue pergi dulu ya.” Gue melingkarkan kedua lengan gue di lehernya, dan langsung berlari keluar rumah.

***

“Sumpah! Lo lama banget sih datangnya. Rapat sudah mau mulai, Kei! lo memang dari mana saja, sih? Jason mana? Lo ga sama dia? Kalian tengkar? Soal apa—hei! Gue belum selesai ngomong.” Gue terus berjalan melewatinya, memasuki ruang khusus untuk ketua dan wakil ketua OSIS, dan duduk di sofa besarnya.

“Astaga, Raisa… Lo lupa kalau rapat diundur setengah jam? Terus, gue ga sama Jason, karena memang gue ga mau. Males. Bosen. Apapun lah, yang pasti bukan karena tengkar.” Gue ngambil sebuah map ungu di atas meja, menyalakan AC, lalu kembali menghempaskan badan ke sandaran sofa.

“Oh iya, panitia untuk MOS besok sudah ready ya. Sorry gue lupa ngasih tahu lo. Habis, lo kayaknya lagi have fun banget di Hawaii waktu liburan kemarin. Mentang-mentang habis menang lomba nih, langsung buang-buang uang ke luar negeri,” canda Raisa sembari duduk di sebelah gue dan mulai mengutak-atik iPad-nya.

“Ya lo diajak ke Hawaii barengan nggak mau. Maunya malah ke Paris. Ya lo enak, disana bisa romantis-romantisan sama Jeffry. Ke Menara Eiffel bareng, ke Arc D’Triomphe bareng, semua bareng. Lah gue? Sama monyet, iya!” jawab gue seenak ngeluarin kentut sambil terus menekuni rundown acara besok, yang direspon dengan cengirannya saja.

“Eh Kei,” panggilnya setelah beberapa detik tidak ada suara.

“Hm?”

“Bentar-bentar—nah, ini dia!” ia menyodorkan iPad-nya ke arahku. “Itu susunan panitianya. Ada yang kelas XI, ada yang XII. Rata-rata sih di luar OSIS, tapi ada satu-dua yang gue ambil dari anggota OSIS. Biar dia nggak terlalu nganggur besok.”

Gue melihat sejenak. Eh, tunggu dulu? Siapa ketuanya?

“Ketuanya Gary. Gary Maxmillion. Lo tahu, kan? Anak kelas XII IPS 2 itu,” katanya seakan dapat membaca pikiranku.

“Ga-Gary… Gary Max? Gary yang gamer gila itu? Yang sampai Mac Book-nya hampir disita gara-gara main Freddie… Freddie night… argh, Fredie apa lah itu!—di kelas, benar?” Sumpah! Gue nggak percaya! Masa bocah berandal kayak gituan yang jadi ketua panitia MOS untuk besok?

Hei, hei, he’s good to be a leader, beb. Dia itu punya ‘something aura’ untuk jadi pemimpin. Lagipula, yang lain juga sudah setuju, kok, kalau dia yang jadi ketuanya.”

“Tapi ‘kan, Ra—“

Sial! iPhone gue bunyi. Pasti…

Tuh, benar ‘kan! Pasti Jason.

“Hm?... Gue? Gue bareng Raisa aja pulangnya… iya lah. Sekalian jalan-jalan sebentar, mau nonton. Oh, gimana kalau lo ikutan juga? Daripada gue jones di bioskop… Tentu saja. Jelas Raisa sama ‘bebeb’-nya, si Jeffry…” kata gue sambil ngelirik, seakan mengatakan ga-cuma-lo-aja-yang-punya-couple-nanti-gue-juga ke Raisa. “…Kita naik mobil aja, ya. Soalnya, barusan gue liat berita, diperkirakan hari ini bakalan hujan deras… oke… hmm, ya bye.”

Tut!

Gue melirik jam tangan gue. Yak, sepuluh menit lagi rapat dimulai. Itu artinya, gue sama wakil gue, Raisa, kudu segera ke ruang rapat. Gue penasaran, gimana ya perawakannya para pengurus MOS? Memang sih, kebanyakan dari mereka gue kenal. Tapi ‘kan, masa saat jadi pengurus MOS sama seperti saat mereka di hari-hari biasa?

Dan terutama, ketuanya…

              ***

            “Baiklah, rapat hari ini cukup. Saya rasa, kalian semua pasti dapat membimbing calon murid-murid baru selama satu minggu kedepan. Terima kasih semuanya.” Semua yang ada di ruangan itu tepuk tangan. Gue pun kembali duduk di kursi besar kebanggaan gue sambil merapikan kertas-kertas yang bertebaran di atas meja.

“Eh, gue ke toilet dulu, ya.” Belum sempat gue meng-iya-kan, Raisa sudah nyelonong pergi. How cute is—

Astaga, iPhone gue bergetar (lagi). “Ya?... lo ga bisa jemput?... kenapa?... hmm… ga, gue tadi ga bawa mobil… supir? Ga usah deh, gapapa… gampang. Tenang aja… okay, okay… bye!” Hhh… ada apa lagi ini. Masa gue harus semobil sama Raisa dan ‘bebeb’-nya? Mendingan gue disuruh naik ke atas punggung dinosaurus deh, daripada harus semobil sama mereka, terus melihat adegan percintaan mereka di mobil—mesra-mesraan, terus Raisa nyender di lengan Jeffry yang kekar, terus mereka ciuman—urgh! Tidak! Tidak! Tidak! Apalagi kalau—

“Kei.”

Bagus. Seseorang telah berhasil menghentikan jalan pikiran gue yang mulai nggak karuan. Memang sih, Raisa sama Jeffry adalah orang yang baik-baik. Tapi kan, nothing’s impossible kalo judulnya ‘cinta’.

Gue noleh ke kiri. ”Ya, Gar?”

Iya berdehem. ”Ehm, sorry, bukannya bermaksud nguping. Tapi, tadi nggak sengaja gue dengar pembicaraan lo di telepon. Kayaknya lo kebingungan soal transport pulang, ya? Ehm, gue—“

“Kei!” Gue noleh. Ternyata Raisa sudah kembali. “Jadi ‘kan, ke bioskop? Gue barusan sudah ajak Jeffry. Dia nya mau. Terus, kebetulan Jeffry browsing, katanya di bioskop lagi ada film bagus. Gimana?” celotehnya tanpa menyadari bahwa ada Gary di sebelahku.

“E-eh, gini… ehm… barusan Jason nelpon dan dia katanya ga bisa ikut… dan, yah—“

“Gue ikut.”

Spontan gue dan Raisa menoleh ke sumber suara.

“Ng, ‘kan tadi pacar lo—si Jayden, eh Jaron, eh siapa lah itu—ga bisa jemput. Yah, gue bisa ngantar lo. Sekalian, gue juga belum mau pulang. Itupun kalau lo mau.” Terdengar nada tidak pasti dari Gary. “E-eh, gue pastikan pacar lo nggak akan jealous atau semacamnya.”

Mulut ternganga, alis terangkat, kening berkerut. Ya, itulah tampang gue sekarang. Dan, sekali lagi, sebelum gue sempat meluruskan ‘fakta’, Raisa sudah keburu ngomong, 

“Oh, boleh! Bagus deh kalau gitu. Lo bawa mobil, ‘kan? Jadi, biar Kei bareng lo, sekalian nanti lo anterin dia pulang. Bisa, ‘kan?” gue bisa melihat wajah Raisa yang berbinar-binar.

“Oh, tentu saja! By the way, kita nanti mau lihat film apa?”

“Nah, itu dia! Lo tau, ‘kan, film…”

Dan dapat dipastikan, percakapan mereka selanjutnya tidak kuhiraukan. Gue sudah capek. Masih banyak yang harus gue pikirkan selain masalah film. Misal, yang satu ini nih : soal kegiatan MOS besok. Tapi, kalau dilihat-lihat, si Gary sepertinya memang punya ‘something aura’ untuk membuat orang-orang tertarik dengannya. Lihat saja Raisa. Raisa—si emak-emak-tukang-jual-obat-koyo—yang super cerewet, bisa langsung dekat dengan Gary—si cowok-berandal-ga-beraturan-sok-tahu-namun-entah-mengapa=dapat-memikat-semua-orang-untuk-mendekat—yang sepertinya tingkat cerewetnya sudah level dewa. Bahkan menurutku, Raisa lebih cocok dengan Gary daripada Jeffry—si cowok-cool-berbadan-atletis yang cenderung lebih banyak diam dalam percakapan.

***

            Gue ngelirik jam tangan gue. Jam enam sore. Ternyata lama juga gue, Raisa, ‘bebeb’-nya—Jeffry Agustinus—dan Gary di Mall. Dari niat awal hanya nonton, jadinya main di timezone, makan siang, terus kembali ke bioskop untuk nonton film yang lain.

Thanks ya,” kata gue sambil merapikan tas dan bersiap keluar dari mobil Gary. Namun, gerakan gue terhenti saat Gary menyentuh pelan lengan gue.

“Gue yang harusnya terima kasih ke lo. Karena, lo sudah nemani gue hari ini.”

Gue tersenyum mengiyakan, membuka pintu, keluar mobil, dan menutupnya kembali. Lalu melambaikan tangan hingga Porsche Panamera hitam Gary berbelok keluar area komplek keluarga gue. Gue lalu balik badan dan menekan bel di sisi kanan gerbang rumah gue yang tingginya mencapai lima meter. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari intercom, “Silahkan masuk, nona Kei.” Gerbang pun terbuka, dan gue masih harus berjalan melewati taman depan sejauh kira-kira tiga puluh meter untuk dapat mencapai pintu masuk utama.

***

Ting… Tong…

Hhh… Siapa lagi sih itu? Okay, gue tahu itu pasti Jason. Tapi, tidak bisakah dia berhenti membunyikan bel kamar gue?

Ting… Tong…

Oh, ayolah! Bahkan untuk membuka mata saja gue nggak kuat.

“Kei… Lo gapapa, ‘kan? Jangan buat gue khawatir. Cepat buka pintunya! Ini sudah jam setengah tujuh pagi.” Gue mendengar suara Jason dari intercom yang membuat suaranya menggema di dalam ruangan.

Eh, tunggu dulu.

Setengah tujuh…

SETENGAH TUJUH?!

Sial! Sial! Sial!

Bodo amat deh, pokoknya gue harus memaksa, menyeret, apapun lah, asal badan gue bisa bergerak. 

Ayo Kei… Ayo!

Beruntung, tidak sampai sepuluh menit gue bisa keluar kamar—dengan tersendat-sendat, tentunya.

“Lo nggak apa-apa?” tanya Jason setelah gue nyusul dia ke ruang makan. Ia lalu menyentuh tangan gue. “Kei! Badan lo panas banget. Kita harus ke dokter sekarang!”

Gue menggeleng cepat. Sudah nggak ada waktu untuk melakukan hal-hal konyol seperti itu. Pokoknya, gue harus segera sampai di sekolah. “Siapkan saja mobil dan kita segera berangkat ke sekolah. As faster as you can.”

“Tapi, Kei—“

Please…” mohon gue yang membuahkan hasil tidak sia-sia.

Dia melihat gue sejenak lalu kemudian menghembuskan nafas pelan. “Oke, gue siapin mobil dan lo makan roti di atas meja itu dulu.” Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari keluar, meninggalkan gue di meja makan yang tanpa sepengetahuannya, gue sama sekali nggak menyentuh makanan ataupun minuman di atas meja besar itu.

***

Gue melihat jam tangan gue. Jam tujuh kurang lima belas menit. Bagus. Itu artinya, acara sudah berlangsung selama lima belas menit tanpa kehadiran gue, sang ketua OSIS, yang bukannya memberi contoh baik untuk datang tepat waktu, tapi malah datang sangat terlambat. Sangat. Garis bawahi kata itu.

Gue segera melepas safety belt yang sejak tadi telah berhasil menyesakkan nafasku. Sial! Kenapa nggak bisa dibuka? Hei! Ini mobil seharga ratusan juta dolar, ‘kan? Tapi kenapa kualitasnya seperti barang rongsokan? Ayo buka! Buka! Bu—

Cklek!

Bagus!

E-eh? Apa gue yang barusan berhasil membuka safety belt ini?

“Apa ga sebaiknya lo istirahat di rumah aja? Bahkan untuk membuka safety belt saja lo nggak bisa—“

“Gue sudah telat,” jawab gue singkat sambil membuka pintu mobil dan berlari keluar menuju lobby sekolah.

***

“Ya Tuhan, Kei! Lo telat lagi—eh, badan lo kok panas? Lo sakit? Lo kok nggak di rumah aja? Atau lo mau di UKS saja?“ Raisa memegang tangan gue dan mengelusnya pelan.

“Nggak, gue gapapa kok. Cuma ga enak badan sedikit. Oh iya, gimana tadi MOS nya selama gue belum datang?” Oke, harus gue akui dua kalimat awal tadi murni seratus persen bullshit belaka. Yah, minimal sekarang Raisa nggak akan ngerocos panjang lebar lagi soal sakitku.

“Hmm, seperti yang telah gue duga sebelumnya, dia memang bisa diandalkan dalam menjadi ketua. Lo tahu, baru lima menit dia berkeliaran dan gabung sama murid-murid baru, mereka sudah nempel terus sama dia. Hebat! Heran gue, tuh bocah nyantet tuh anak-anak baru nan tak berdosa itu kali, ya? Tadi pidato pembuka darinya juga disambut dengan sangat antusias oleh anak-anak itu. Oke lah, kalau mereka—yang nge-‘fans’ sama Gary—itu kaum hawa. Secara, dia memang nggak cuma modal tampang yang jauh diatas sempurna, tapi juga punya badan atletis, tajir, terus lumayan pinter lagi. Dia cuma nggak bisa pelajaran sejarah doang—walaupun dia masuk kelas IPS. Tapi, manusia normal mana juga yang percaya kalau pelajaran sejarah itu penting? Ya, penting sih, bagi para peneliti tengkorak-tengkorak di masa depan. Penting juga, bagi manusia-manusia yang nantinya mau jadi pemandu di Candi Borobudur. Ya, ‘kan mereka harus tahu sedikit-sedikit tentang sejarah bangunan itu. Biar nggak bodo-bodo amat, gitu. Tapi ‘kan intinya tetap saja, pelajaran sejarah tidak terlalu penting. Okay, kembali ke topik awal. Nah, sekarang masalahnya, yang nge-fans sama dia juga para kaum Adam! Eh, maksud gue, kaum Adam itu para cowok, bukan geng kelompok si Adam—yang semua anggota kelompoknya sama kayak ketuanya, si Adam—yang culun, berkacamata bunder dengan tebal se-tutup botol Aqua, terus dekil, sok pintar, padahal nilai juga do-re-mi-fa-sol-fa-mi-re-do. Terus—“

Okay, okay, gue ngerti. Intinya, dia telah mengerjakan tugasnya dengan baik, benar? Dan bagi gue itu sudsh cukup. Terserah dia mau punya fans kek, penggemar kek, that’s none of my business,” potong gue acuh tak acuh.

Dan sepertinya, Raisa mengerti kalau muka gue mulai mengatakan tolong-jangan-nyerocos-lagi-karena-gue-sedang-tidak-dalam-mood-yang-bagus. Karena setelah itu dia mengatakan, “Ng, oke lah kalau begitu. Gimana kalau kita langsug ke auditorium? Masih ada kegiatan disana.” Dan tanpa seizin gue, dia langsung narik tangan gue.

Untuk mencapai ruang auditorium (yah, sebenarnya gue masih nggak setuju tempat itu disebut auditorium, karena pada kenyataannya tempat itu lebih terlihat seperti lapangan sepak bola internasional, mengingat bagaimana luas dan tingginya tempat itu), gue dan Raisa hanya perlu keluar gedung sekolah dan berjalan sedikit ke belakang, karena gedung sekolah dan gedung auditorium terpisah. Satu-satunya batas penghubung keduanya hanyalah sebuah kolam renang seluas dua puluh kali sepuluh meter, dengan kedalaman mencapai dua meter, yang terletak diantara kedua tempat itu. Sebenarnya, lewat dalam gedung sekolah bisa saja. Tapi, itu akan memakan waktu lebih lama, sedangkan gue sudah telat datang kesini.

Sampai di auditorium, Raisa langsung melambaikan tangan ke atas—ke arah Gary, tentunya—yang sedang berdiri di atas panggung bersama beberapa panitia MOS—karena sisanya  berada di bawah panggung untuk mengontrol murid-murid baru. Melihat kami—mungkin khususnya gue—sudah datang, ia segera turun dan berlari kecil menghampiri kami.

“Hahh… akhirnya kalian datang juga. Sejak awal tadi sih acaranya berjalan lancar. Anak-anaknya antusias banget. Oh iya, ini laporan sementaranya.” Gary menyodorkan sebuah map hitam yang memang sejak tadi sudah dia pegang. Gue mengambil dan membukanya. Entah mengapa, gue nggak begitu fokus dengan tulisannya yang rapi ataupun hasil dari laporan itu sendiri.

“Gar,” panggil gue yang dibalas dengan tolehannya. “Gue mau keluar.”

Satu kalimat, tiga kata, dua belas huruf. Singkat, tapi gue rasa dia mengerti maksud gue, karena setelah itu dia langsung mengikuti gue keluar ruangan—tanpa Raisa, tentunya.

Setelah beberapa langkah gue berjalan menyusuri pinggir kolam tanpa berhenti maupun noleh, gue merasakan ada tangan yang kokoh yang dengan lembut memegang tangan gue.

I’m okay.” Memang, dia belum bertanya. Tapi gue yakin, kalau gue kasih dia kesempatan untuk ngomong, dia pasti akan bertanya sesuai dengan jawaban gue barusan.I just want to—“

I know you’re not,” balasnya dingin dan datar.

Dasar cowok sialan. ‘kan sudah gue bilang kalau gue—

E-eh, tunggu dulu.

Lo-loh, kok sekeliling gue jadi nggak karuan gini? Kenapa semua terasa berputar? Gue mencoba menahan rasa sakit di kepala dengan menekannya dengan telapak tangan. Namun tiba-tiba gue kehilangan keseimbangan, dan gue bisa pastikan, kepala gue akan membentur keramik pinggir kolam dengan keras kalau saja Gary tidak langsung menarik gue. Untuk beberapa detik, gue sempat dengar ia memanggil nama gue berkali-kali sambil sesekali memegang kening gue.

Setelah itu, gue sudah nggak ingat apa-apa lagi.

***

Kei…

Kei…

Gue berusaha membuka mata. 

Gary.

“Kei, lo sudah sadar? Lo gapapa, kan?”

Kenapa? Kenapa gue mimpi itu lagi? Kenapa gue masih nggak bisa menghilangkan mimpi buruk itu dari memori gue? Sebenarnya mimpi apa itu? Kenapa—

“Kei!”

Spontan gue menoleh.

‘Kei, lo gapapa, ‘kan?” Kembali gue mencerna apa yang telah terjadi dengan gue beberapa menit yang lalu.

“Lo lagi flu, ya? Badan lo demam. Dan sepertinya lo juga belum sarapan, ‘kan?”     
                     
 Gue hanya diam. Hingga ruangan itu menjadi hening tanpa suara selama beberapa menit.

“Kei.”

Oh God, Suaranya… Suaranya itu… Gue tidak tahu apa ini, tapi… Gue suka dengan suara itu… Gue suka cara dia memanggil nama gue…Tidak, bukan.

Gue ingin selalu mendengar suara itu memanggil nama gue—

Tidak! Tidak! Lo apaan sih Kei. Bukankah semua orang juga manggil lo dengan nada yang sama? Nggak cuma dia aja, ‘kan? Nggak usah lebay deh lo!

“Kenapa?” jawab gue setelah bergulat dengan pikiran gue sendiri.

Gary berdehem. “Ehm, get well… soon… ya.”

Hening.

Gue kembali sibuk dengan pikiran gue sendiri, dan gue yakin dia juga.

Get well soon… get well soon…

Apa maksudnya itu?

Oke, gue tahu artinya adalah ‘Semoga Lekas Sembuh’.

Tapi, bukankah sebuah kalimat terkadang memiliki arti yang ambigu?

“Kei,” panggilnya lagi, namun kali ini tanpa respon dari gue, dia kembali melanjutkan, “Lo percaya nggak, kalau gue bilang gue suka sama lo?”

Gue ternganga. Apa katanya tadi?

“Gue… suka sama lo.” Ulangnya lagi sekaan dia dapat membaca pikiran gue.

“Tidak mungkin.” Jawab gue cepat dan datar sambil mengarahkan pandangan ke sisi lain—tidak menatapnya lagi.

“Bagaimana tidak mungkin? Lo menarik, lo lucu, lo segalanya, dan gue suka sama lo. Apa itu semua tidak cukup untuk membuat gue tertarik sama lo? Apa itu semua tidak cukup kuat untuk membuat lo percaya—“

“NGGAK MUNGKIN!” gue setengah berteriak. Nggak mungkin! Nggak mungkin! Nggak mungkin!

“Mungkin.” Nadanya datar dan dingin.

Gue hanya membalas dengan melihatnya dengan tatapan campur aduk—marah, kesal, bingung—semua menjadi satu. Kesal dan marah, tentu saja, dia seakan meremehkan derajat wanita. Memangnya gue siapa, yang bisa langsung suka dengan seseorang—yang memang terlihat sempurna—tanpa melihat bibit bobot bebet nya, kalau kata orang Jawa. Tapi juga bingung, apakah yang dia katakan sungguhan atau hanyalah bullshit belaka? Lagipula, gue dan dia juga jarang ngomong, jarang berkomunikasi. Bagaimana dia bisa tahu kalau gue lucu lah, menarik lah, apapun itu lah!

Tapi kan…

“Lo masih nggak percaya sama gue?”

Dasar bodoh! Jelas tidak lah! Cewek baik-baik mana coba yang percaya, kalau seorang cewek dan seorang cowok bisa menjalin hubungan hanya dengan berkenalan dekat selama dua hari? DUA HARI!

“Bagaimana kalau gue bilang… Kalau sebenarnya gue sudah kenal lo selama bertahun-tahun?”

A-apa? Apa… katanya tadi?

“Iya, kita sebenarnya sudah pernah bertemu bertahun-tahun lalu—eh…“

“Apa maksud lo?”

Gue melihat wajahnya mulai gelalapan. “Ehm, maksud gue—“

“Jawab gue.” Kata gue nggak kalah dingin.

Dia menghela nafas pelan. “Oke, oke. Sebenarnya… Gue… Yah, gue ada di lokasi kejadian waktu kasus kecelakaan tabrak lari itu.”

A-apa katanya? Apa katanya?

Tabrak lari… Tabrak lari…

Kapan? Diamana? Apa maksudnya?

Kenapa rasanya seperti gue telah menghilangkan suatu kenyataan, suatu fakta yang penting dalam hidup gue?

Kenapa?

Kemana?

Kemana gue bisa mendapatkan penjelasan atas semua ini?

Siapa?

Siapa yang bisa menjelaskan gue tentang semua ini?

To be continue…


“Why Love?” adalah karya tulis kesekian saya dan karya tulis kedua yang saya publish di internet—setelah “KISS”  yang saya publish di wordpress.

Ingin mengenal saya lebih jauh? Atau ingin memberi kritik dan saran atas karya saya? Semua dapat anda kirim via e-mail keziagraceharefa07@yahoo.co.id atau keigrace07@gmail.com atau anda dapat leave comment di halaman ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar